excitesubmit.org – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Pamekasan, Jawa Timur, mengajukan perbaikan 187 sekolah yang mengalami kerusakan kepada Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) pada tahun anggaran 2026.
Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kabupaten Pamekasan, Akhmad Basri Yulianto, menjelaskan bahwa sekolah yang diusulkan mencakup berbagai jenjang pendidikan, mulai dari Taman Kanak-Kanak (TK) hingga Sekolah Menengah Pertama (SMP).
“Rinciannya, TK dan PAUD sebanyak 55 sekolah, SD sebanyak 103 sekolah, dan SMP sebanyak 29 sekolah,” ujar Basri di Pamekasan, Rabu.
Jenis kerusakan yang terjadi beragam, mulai dari ringan, sedang, hingga berat. Kerusakan tersebut disebabkan oleh faktor usia bangunan maupun bencana alam, seperti kebakaran, angin kencang, dan puting beliung.
Baca juga: “TNI bantu warga Aceh lewat pelayanan medis dan trauma healing”
Penyebab Kerusakan Sekolah dan Contoh Kasus
Beberapa sekolah rusak karena usia bangunan yang sudah tua. Salah satunya SDN Jungcangcang 3 Pamekasan, yang sebagian bangunannya bahkan sudah ambruk.
“Bangunan sekolah ini sudah lama berdiri, dan beberapa ruang kelas rusak berat,” kata Basri.
Selain faktor usia, beberapa sekolah mengalami kerusakan akibat bencana alam. SDN Palengaan Laok 6, misalnya, mengalami kerusakan parah pada tiga ruang kelas akibat angin kencang. Siswa di sekolah tersebut terpaksa belajar di rumah warga sementara waktu.
“Kerusakan ini mengganggu proses belajar-mengajar, sehingga penanganan segera diperlukan,” tambah Basri.
Strategi Pemkab Pamekasan untuk Perbaikan Sekolah
Pemkab Pamekasan berharap dengan pengajuan perbaikan ke Kemendikdasmen, semua sekolah yang rusak dapat direhabilitasi secara bertahap. Prioritas utama diberikan kepada sekolah dengan kerusakan berat agar proses belajar tidak terganggu lebih lama.
Basri menekankan pentingnya kolaborasi antara pemerintah pusat dan daerah. “Perbaikan sekolah ini tidak hanya menyangkut fisik bangunan, tetapi juga keselamatan dan kenyamanan siswa serta guru,” katanya.
Selain perbaikan fisik, Pemkab Pamekasan juga menyiapkan strategi mitigasi bencana. Sekolah-sekolah di wilayah rawan angin kencang dan puting beliung akan mendapatkan penguatan struktur bangunan agar lebih tahan terhadap bencana serupa di masa depan.
Dampak Kerusakan Sekolah terhadap Proses Belajar
Kerusakan sekolah berdampak langsung pada kualitas pendidikan dan kenyamanan belajar. Siswa yang harus belajar di rumah warga atau ruangan darurat menghadapi keterbatasan fasilitas, seperti meja, kursi, dan perlengkapan belajar lainnya.
Pemkab Pamekasan menekankan bahwa rehabilitasi sekolah bukan hanya masalah fisik, tetapi juga penting untuk menjaga motivasi belajar dan keberlanjutan pendidikan di wilayah tersebut.
Pandangan Kedepan dan Harapan
Pemkab Pamekasan berharap pengajuan perbaikan 187 sekolah ke Kemendikdasmen dapat segera disetujui dan direalisasikan. Targetnya, sekolah yang rusak berat segera direhabilitasi pada tahun anggaran 2026, sementara sekolah dengan kerusakan ringan dan sedang akan mengikuti program tahap berikutnya.
“Dengan perbaikan ini, kami berharap seluruh siswa bisa belajar di lingkungan yang aman, nyaman, dan mendukung prestasi mereka,” tutup Basri.
Dengan langkah ini, Pemkab Pamekasan menunjukkan komitmennya dalam menjaga kualitas pendidikan sekaligus memberikan perlindungan terhadap siswa dan guru dari risiko kerusakan bangunan.
Baca juga: “Kemendikdasmen Prioritaskan Revitalisasi Sekolah Rusak Akibat Bencana”




Leave a Reply