Warga Banyumas Tolak Tambang di Lereng Gunung Slamet

excitesubmit.org – Sekitar 100 warga Kecamatan Sumbang, Banyumas, menyuarakan penolakan terhadap aktivitas pertambangan di kaki Gunung Slamet.
Aksi tersebut dilakukan oleh warga yang tergabung dalam Aliansi Masyarakat Peduli Sumbang.

Penolakan diarahkan pada aktivitas tambang pasir hitam di wilayah Desa Gandatapa, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah.
Warga menilai aktivitas pertambangan tersebut berpotensi merusak lingkungan dan mengancam keberlanjutan hidup.

Aksi berlangsung pada Minggu di area tambang yang berada di perbatasan Desa Gandatapa dan Limpakuwus.
Warga mendatangi langsung lokasi tambang sebagai bentuk kepedulian terhadap kondisi lingkungan.

Berbeda dari aksi demonstrasi pada umumnya, kegiatan ini tidak diisi orasi atau pengeras suara.
Warga memilih melakukan pengecekan langsung terhadap kondisi lahan bekas penambangan.

Aksi diakhiri dengan pemasangan spanduk penolakan di pagar dan pintu masuk area tambang.
Spanduk tersebut menjadi simbol sikap warga terhadap keberadaan tambang.

Baca juga: “187 Sekolah Rusak, Pemkab Pamekasan Usulkan Perbaikan”

Solidaritas untuk Warga Desa Gandatapa

Koordinator Aliansi Masyarakat Peduli Sumbang, Eka Wisnu, menjelaskan latar belakang aksi tersebut.
Ia menyebut penolakan ini merupakan bentuk solidaritas terhadap warga Desa Gandatapa.

Menurut Eka, warga Gandatapa merasakan dampak aktivitas tambang secara langsung.
Dampak tersebut dirasakan dalam kehidupan sehari-hari masyarakat setempat.

“Kita bersolidaritas dengan warga Gandatapa untuk menolak tambang,” kata Eka Wisnu.
Ia menegaskan aksi dilakukan demi kepentingan bersama masyarakat Sumbang.

Pemasangan spanduk dipilih sebagai cara penyampaian sikap yang damai.
Langkah tersebut dianggap mencerminkan aspirasi warga tanpa menimbulkan konflik.

Eka menegaskan warga tidak menolak kebijakan pemerintah secara membabi buta.
Penolakan lebih diarahkan pada dampak jangka panjang pertambangan.

Kekhawatiran Dampak Lingkungan Jangka Panjang

Aliansi Masyarakat Peduli Sumbang menilai aktivitas tambang berisiko merusak ekosistem Gunung Slamet.
Wilayah kaki gunung dikenal sebagai kawasan penyangga lingkungan dan sumber air.

Eka menyebut dampak lingkungan akan diwariskan kepada generasi mendatang.
Ia mengingatkan risiko bencana jika kerusakan terus dibiarkan.

“Anak cucu kita bisa diwarisi bencana,” ujar Eka.
Pernyataan tersebut mencerminkan kekhawatiran warga terhadap masa depan lingkungan.

Gunung Slamet merupakan salah satu kawasan penting di Jawa Tengah.
Wilayah ini memiliki fungsi hidrologis dan ekologis yang vital.

Kerusakan lahan di kaki gunung berpotensi memicu longsor dan krisis air.
Risiko tersebut menjadi alasan utama penolakan warga.

Kerusakan Infrastruktur Jalan Akibat Tambang

Selain dampak lingkungan, warga menyoroti kerusakan infrastruktur jalan.
Kerusakan terjadi akibat aktivitas kendaraan berat dari kawasan tambang.

Eka menjelaskan jalan rusak terjadi dalam waktu relatif singkat.
Padahal jalan tersebut sebelumnya baru selesai diperbaiki.

Beberapa titik jalan kembali berlubang dan rusak parah.
Kerusakan ini mengganggu mobilitas warga dan aktivitas ekonomi.

“Jalan cepat rusak, dan tambang tidak pernah memperbaiki,” kata Eka.
Ia menilai beban perbaikan selalu dibebankan kepada pemerintah.

Warga menilai kondisi tersebut tidak adil bagi masyarakat sekitar.
Mereka harus menanggung dampak tanpa mendapat manfaat langsung.

Penurunan Debit Air Jadi Keluhan Serius

Dampak lain yang dirasakan warga adalah penurunan debit air.
Kondisi ini memengaruhi kebutuhan rumah tangga dan pertanian.

Air bersih menjadi sumber utama kehidupan masyarakat pedesaan.
Penurunan debit air memicu kekhawatiran akan krisis berkepanjangan.

Eka menilai penambangan pasir berpotensi merusak daerah resapan air.
Jika dibiarkan, kondisi ini akan semakin memburuk.

Pertanian warga juga terancam akibat pasokan air yang tidak stabil.
Hal ini dapat berdampak pada ketahanan pangan lokal.

Aktivitas Tambang Tetap Berjalan Meski Diawasi

Di depan area tambang terpasang tanda peringatan resmi dari KLH dan BPLH.
Tanda tersebut menunjukkan area tambang sedang dalam pengawasan pemerintah.

Pengawasan dilakukan oleh Pejabat Pengawas Lingkungan Hidup.
Namun aktivitas pertambangan tetap berjalan seperti biasa.

Kondisi ini memicu pertanyaan warga terkait efektivitas pengawasan.
Warga menilai belum ada langkah tegas terhadap aktivitas tambang.

“Pengawasan ada, tapi aktivitas tetap jalan,” ujar Eka.
Ia menilai kondisi ini memperbesar keresahan masyarakat.

Tuntutan Penutupan Total Tambang

Aliansi Masyarakat Peduli Sumbang menyampaikan tuntutan utama warga.
Mereka meminta penutupan total aktivitas tambang di wilayah tersebut.

Menurut Eka, penutupan sementara tidak menyelesaikan persoalan.
Pengalaman di lokasi lain menjadi pelajaran bagi warga.

Warga menginginkan solusi permanen demi keberlanjutan lingkungan.
Mereka berharap pemerintah bertindak tegas dan transparan.

“Sampai sekarang belum ada tindakan penutupan,” kata Eka.
Aktivitas tambang masih berjalan meski penolakan terus disuarakan.

Pandangan ke Depan dan Harapan Warga

Aksi damai ini menjadi peringatan awal bagi pemangku kebijakan.
Warga berharap suara mereka mendapat perhatian serius.

Penolakan dilakukan demi menjaga lingkungan Gunung Slamet.
Warga menilai kelestarian alam lebih penting dari keuntungan sesaat.

Aliansi Masyarakat Peduli Sumbang berkomitmen mengawal isu ini.
Mereka berharap dialog terbuka dapat segera dilakukan.

Ke depan, warga berharap ada evaluasi menyeluruh terhadap izin tambang.
Langkah tersebut dinilai penting untuk mencegah konflik berkelanjutan.

Aksi ini menegaskan peran masyarakat dalam menjaga lingkungan.
Warga Sumbang berharap masa depan kawasan tetap lestari dan aman.

Baca juga: “Aliansi Pasie Raya Tegas Tolak Tambang Emas dan Pembalakan Liar”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *