excitesubmit – Agenda Akhir Pekan Japanese Film Festival (JFF) 2025 kembali hadir dengan pengalaman sinema Jepang terbaik bagi pecinta film Indonesia. Selain Jakarta, festival ini akan berlanjut ke delapan kota lain, termasuk Bandung, Medan, dan Surabaya. Festival juga menghadirkan berbagai kegiatan pendukung yang menarik.
Diselenggarakan oleh The Japan Foundation, Jakarta, JFF 2025 menampilkan 15 film lintas genre. Film ini mencakup animasi, drama, komedi, hingga dokumenter. Setiap film menunjukkan dinamika masyarakat Jepang dan sisi unik kehidupan sehari-hari di Negeri Sakura. Film pembuka, Sunset Sunrise karya Yoshiyuki Kishi, bercerita tentang perjuangan dan harapan manusia di daerah terdampak gempa dan tsunami 2011. Selain itu, film ini menambahkan sentuhan komedi lembut dan telah diputar di festival internasional, termasuk Toronto, Beijing, dan Shanghai.
Selain menonton film, pengunjung juga dapat mengikuti program JFF × Working in Japan. Program ini menawarkan ruang percakapan bagi pemelajar bahasa Jepang yang ingin bekerja di Jepang melalui visa Specified Skilled Worker (SSW). Festival juga menyediakan merchandise eksklusif, sehingga pengunjung bisa membawa pengalaman budaya pulang.
“JFF tahun ini menandai penyelenggaraan kesembilan, dan terus menjadi jembatan budaya antara Jepang dan Indonesia,” ujar Director General The Japan Foundation Jakarta, Inami Kazumi. Oleh karena itu, festival menyesuaikan tren dan preferensi penikmat film yang semakin beragam.
Dengan jadwal yang tersebar hingga Desember, JFF 2025 tidak hanya menghibur, tetapi juga memberi wawasan budaya dan kesempatan edukatif. Dengan demikian, festival menegaskan posisi sinema Jepang sebagai medium kuat untuk mempererat hubungan budaya dan meningkatkan apresiasi film di Indonesia.
Baca Juga: “GTA 6 Resmi Ditunda, Rilis Baru November 2026“
Agenda Akhir Pekan: Pameran “Threading Across Time” Tampilkan Seni Tenun dan Pewarnaan Indonesia-Jepang di Museum Nasional
Selain Japanese Film Festival, Jakarta menghadirkan pameran budaya menarik bertajuk Threading Across Time: Dyeing and Weaving of Indonesia and Japan. Pameran ini berlangsung di Museum Nasional dari 25 Oktober hingga 7 Desember 2025. Pengunjung dapat menikmati warisan tekstil yang menghubungkan dua negara kepulauan.
Pameran menyoroti hubungan panjang Indonesia dan Jepang, yang telah menjalin interaksi perdagangan sejak Zaman Edo (1603–1868). Hubungan diplomatik resmi kedua negara dimulai pada 1968, dan pada 2028 akan genap 70 tahun kerja sama. Dengan demikian, pameran ini menjadi momentum penting untuk mengenal sejarah budaya tekstil kedua bangsa.
Pengunjung dapat mempelajari beragam teknik pewarnaan dan tenun khas Jepang, termasuk Yuzen dan Shibori dengan pola unik, Bingata dari Okinawa, serta Karaori dan Kinran dari Nishijin, Kyoto. Selain itu, karya-karya Jepang dipadukan dengan kain tradisional Indonesia seperti batik — kain yang dibuat dengan malam panas — dan songket, tenunan benang emas kebanggaan Nusantara.
“Pameran ini mengajak pengunjung untuk merenungkan kelestarian warisan budaya tekstil sekaligus melihat masa depan kreativitas tekstil kedua negara,” jelas pihak penyelenggara. Selain menampilkan keindahan, pameran juga menekankan nilai edukatif dan sejarah budaya.
Melalui Threading Across Time, masyarakat tidak hanya mengapresiasi keindahan kain, tetapi juga memahami proses kreatif dan teknik tradisional. Dengan demikian, pameran ini memperkuat hubungan budaya Indonesia dan Jepang serta mendorong pelestarian tekstil tradisional bagi generasi mendatang.
Baca Juga: “Football Manager 26 Resmi Rilis dengan Fitur Baru“




Leave a Reply